Rabu, 16 September 2015

Apa Itu Ekonomi Syari'ah?
Program Studi Ekonomi Syari’ah merupakan
disiplin keilmuan baru yang dilaksanakan di Fakultas Agama Islam. Pendiriannya berdasarkan SK Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor : 1891 Tahun 2012 tentang Izin Penyelenggaraan Program Studi Strata Satu (S.1). Program Studi ini bertujuan untuk  mencetak sarjana Ekonomi Syari’ah yang  tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan di bidang ilmu ekonomi syari’ah,  tetapi juga memiliki kemandirian dan sikap ilmiah untuk menemukan, mengaktualisasikan dan mengembangkan pengetahuan dalam bidang ekonomi syari’ah yang diperkuat dengan keahlian mereka dalam bidang ushul fiqih dan mu’amalah. Sehingga prospek kerja lulusan sangatlah luas. Selain sebagai praktisi, konsultan di lembaga-lembaga keuangan dan bisnis syari’ah seperti Perbankan, Penggadaian, Asuransi/takaful, Leasing, Pasar Modal dan lain-lain, juga sebagai peneliti, pendidik, dan pakar di bidang ilmu ekonomi syari’ah yang berkualifikasi ulamaFiqih (khususnya bidang Mu’amalah).
Untuk meningkatkan kualitas sumber daya alumni, prodi ini menawarkan dua konsentrasi, yaitu akuntansi syari’ah dan perbankan syari’ah. Kualitas kurikulum dirancang sesuai dengan perspektif stakeholders dengan didukungfasilitas  perkuliahan yang dilengkapi laboratorium, perpustakaan dan ruang kelas yang modern. Staf pengajar selain didukung oleh para dosen yang berkualifikasi S2 dan Doktor, juga oleh para praktisi di bidang ekonomi syari’ah, seperti Bank Syari’ah, BMT, Takaful, Penggadaian Syari’ah, Bisnis Syari’ah, dan lain-lain.

Peluang Kerja Dijurusanku

Kesempatan kerja semakin sempit. Pertumbuhan lapangan kerja tak sebanding dengan jumlah lulusan perguruan tinggi. Para sarjana yang sebulan lalu di wisuda dengan gagahnya, mengantri panjang dan berpanas-panasan dalam setiap bursa tenaga kerja yang digelar.Betul jika ekonomi syariah hadir sebagai solusi atas kekacauan ekonomi global. Benar bahwa ekonomi syariah datang membawa kemashlahatan. Setuju memang ekonomi syariah menjanjikan keadilan dan distribusi pendapatan.

Di luar fakta bahwa sistem bagi hasil lebih adil dari riba yang menjerat, di samping kenyataan bahwa zakat dan wakaf sebagai instrument pemberdayaan ekonomi umat, ekonomi syariah tanpa disadari hadir membawa secercah harapan baru dalam berkarir. Tumbuhnya industri keuangan syariah dan kesadaran masyarakat akan kehalalan dalam bermuamalah menciptakan ladang garapan baru untuk berkarya.
Tak perlu lagi berkeluh kesah, tak usah lagi berharap cemas. Kekhawatiran akan pengangguran seharusnya tak lagi menghantui. Ekonomi syariah hadir dengan sejuta pilihan karir untuk ditekuni.
Akademisi
Menurut penelitian Suroso Imam Zadjuli (Guru Besar Universitas Airlangga, dalam jangka menengah sampai 5 tahun mendatang diperlukan sebanyak 38.940 orang lulusan D3 sampai Doktor bidang ekonomi syariah. Sedangkan dalam jangka panjang antara 10-30 tahun mendatang SDM yang dibutuhkan sebanyak 125.790 orang lulusan D3 sampai Doktor. Untuk mencapai tujuan ini, diperlukan minimal 10 perguruan tinggi yang membuka program doktor ekonomi Islam. Sedangkan di Indonesia belum ada universitas yang membuka program ini. Hal ini dikarenakan masih jarangnya akademisi yang fokus di bidang ekonomi syariah.
Data tersebut mengindikasikan masih lebarnya peluang untuk berkarir sebagai akademisi di bidang ilmu keuangan syariah. Bagaikan efek bola salju, kehadiran para doktor di bidang ilmu ekonomi syariah akan mempercepat penyediaan SDM syariah dari level Ahli Madya sampai Magister.
Profesional Industri
Bambang Brodjonegoro (Wakil Menteri Keuangan dan Ketua Umum DPP IAEI) menyebutkan dalam kata sambutannya di acara Forum Riset Ekonomi dan Keuangan Syariah (FREKS) 13 November 2013 lalu bahwa industri perbankan syariah tumbuh hampir 50% setiap tahunnya. Selain itu, aset lembaga keuangan syariah non-bank tercatat sebesar 1274 Triliun Rupiah. Berkembangnya industri keuangan syariah merupakan pertanda bahwa semakin banyaknya SDM berkualitas yang bisa mengisi pada posisi-posisi dari mulai level manajerial sampai klerikal.
Menurut ketua umum ASBISINDO (Asosiasi Bank Syariah Indonesia), Yuslam Fauzi, kebutuhan terhadap SDM perbankan syariah rata-rata 11.000 orang per tahun. Sedangkan perguruan tinggi di Indonesia baru bisa menghasilkan lulusan bidang ekonomi dan keuangan syariah sekitar 3.750 orang per tahun. Terjadinya jurang kebutuhan SDM Syariah ini dikarenakan masih kurangnya jumlah perguruan tinggi yang membuka program studi ekonomi maupun keuangan syariah. Tercatat sampai tahun 2012 baru ada 20 perguruan tinggi dalam negeri yang membuka program studi ekonomi dan keuangan syariah. Lulusan perguruan tinggi ekonomi syariah yang memiliki keterampilan serta integritas yang baik sangat mendesak dibutuhkan mengingat sebanyak 90% tenaga kerja di bank syariah tidak memiliki latar belakang pendidikan ekonomi syariah.
Oleh karena itu, bagi yang ingin menekuni karir sebagai professional di industri keuangan syariah ada kabar baik bahwa kesempatan tersebut masih terbuka lebar.
Islamic Financial Planner 
Di samping akademisi dan professional industri, ada sebuah profesi dalam bidang ekonomi syariah yang memiliki tugas khusus. Tugas khusus yang bertujuan mengedukasi masyarakat dan orang awam untuk mengurangi sifat konsumtif. Amanah untuk senantiasa memberikan masukan dan berbagai macam pilihan yang syariah dalam berinvestasi. Profesi yang membimbing masyarakat untuk bisa terlepas dari hutang konsumtif. Peran yang mengarahkan seorang ibu bagaimana mengelola uang bulanan dari suaminya agar ekonomi keluarga berlangsung sejahtera. Sosok yang memberikan pandangan bagi keluarga muda agar bisa menyekolahkan anak mereka kelak sesuai dengan cita, yang dibutuhkan oleh para orang tua untuk mempersiapkan masa pensiunan mereka dan diharapkan oleh si kaya untuk memberikan saran terbaiknya dalam mengelola hartanya.
Sebuah penelitian baru mengungkapkan bahwa kebanyakan orang Indonesia memiliki perilaku konsumtif dalam pembelian smartphone dan tablet. Berdasarkan data survei dari Cisco Visual Networking Index (VNI) Forecast, akan ada 370 juta pembelian ponsel atau komputer tablet yang dilakukan oleh warga Indonesia pada 2017
Hasil survei Indeks Kepercayaan Konsumen kuartal I/2013 yang diselenggarakan Nielsen di 58 negara pada Februari hingga awal Maret 2013 kembali menempatkan Indonesia ke posisi teratas negara yang penduduknya paling optimistis dalam memanfaatkan uang.
Head of Wealth Management HSBC Indonesia Steven Suryana mengungkapkan tingkatkan kesadaran investasi masyarakat Indonesia masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan beberapa negara, seperti China.
Masyarakat Indonesia yang masih belum sadar berinvestasi, kebiasaan berhutang di masyarakat kelas menengah ke bawah, ketagihan kredit konsumtif, biaya pendidikan yang semakin mahal, maka dibutuhkan jasa konsultasi keuangan. Profesi ini masih sangat langka di Indonesia. Belum banyak pemainnya. Akan tetapi, peluang menjanjikan profesi Islamic Financial planner ini mulai tercium dari saat ini. Masih banyak waktu untuk mempersiapkan. Profesi ini akan banyak dicari.
Penulis Buku Ekonomi Syariah
Proses percepatan pembangunan SDM keuangan syariah tidak akan berjalan dengan lancar tanpa fasilitas penunjang. Diantara fasilitas penunjang dalam pembangunan SDM tersebut adalah industri penulisan dan penerbitan buku-buku ekonomi syariah. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh mahasiswa STEI TAZKIA, sebanyak 74% mahasiswa merasa ketersediaan buku-buku ekonomi syariah kurang memadai.
Selain kurangnya buku-buku teori atau akademis, buku ilmiah popular yang mengulas tentang prinsip-prinsip ekonomi syariah pun belum banyak ditemukan di toko-toko buku terkenal. Melihat realita ini, ada kesempatan yang terbentang luas bagi siapapun yang ingin berkarir dalam bidang kepenulisan dan penerbitan buku-buku ekonomi syariah teoritis untuk bahan pembelajaran serta buku yang bersifat popular untuk dibaca oleh masyarakat awam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar